Selama ini ada yang salah dalam proses belajar sehingga membuat kita menjadi orang yang tahu tapi tidak memiliki energi untuk bertindak. Hasilnya kita memiliki segudang teori dan penjelasan namun tidak paham bagaimana menggunakan penjelasan tersebut menjadi solusi aktif dan dapat dijalankan. Bahkan ada yang lebih aneh, mereka yang belajar teori, dengan teori tersebut menjadi ahli untuk mengkritik orang lain, dan dengan teori menjadi tameng diri agar tidak disalahkan/dikritik.

Menemukan Kembali Tujuan Belajar

Tujuan akhir dari proses belajar adalah memanusiakan manusia dengan segala potensi yang ada dalam dirinya. Karena potensi itu bervariasi maka tujuan akhirnya pun berbeda antara satu orang dengan orang lain. Karena tidak semua orang paham dengan potensinya, maka tugas pertama bagi orangtua dan guru adalah memandu siswa untuk belajar mengenali diri dengan memfasilitasi kemampuan belajarnya.

Sudah tepat bagi seorang guru untuk mengajarkan semua ilmu kepada siswanya, dan tidak tepat jika siswa tersebut harus menguasai semuanya. Utk itu siswa harus diajarkan mengenali prioritas utama dalam dirinya. Inilah tugas kedua dari orangtua dan guru. Selanjutnya tugas ketiga adalah memandu mereka berusaha dengan sangat keras dan serius pada prioritas tersebut.

Fase Pertama dalam Siklus Belajar: MEYAKINI

Keyakinan adalah fondasi dari semua keberhasilan atau kegagalan. Baik keyakinan sadar maupun bawah sadar, keduanya memiliki pola yang hampir sama dalam membentuk kerangka perilaku dan kebiasaan. Karena itu keyakinan semestinya ditanamkan secara proporsional dan berkelanjutan.

Dari sekian banyak true story yang saya dapatkan dari mereka yang berhasil dan membawa perubahan adalah KEYAKINAN. Keyakinan bahwa suatu saat mereka akan berhasil. Keyakinan bahwa mereka akan membuat perubahan dalam hidup dan kehidupannya. Keyakinan bahwa Tuhan punya alasan untuk menempanya dengan berbagai pengalaman hidup, dsb.

Keyakinan itu terbentuk akibat senutuhan mereka dengan realitas sehari-hari dan dorongan untuk menjadi bermakna dalam hidup. Hanya bedanya antara mereka yang berhasil ini dengan orang pada umumnya adalah, level keteguhan dalam memegang keyakinan. Dalam kurun waktu tertentu mungkin keyakinannya kokoh setegak karang, namun adakalanya mencair seperti es terkena panas. Dan mereka pun tetap berusaha bertahan walaupun tertatih dan tidak berkuasa.

Untuk kita semua, jangan mengecilkan keyakinan anak-anak kita. Support mereka dengan membantu mengokohkan keyakinan dan mengajarkan mereka keyakinan yang tepat.

Keyakinan pada Kuasa Tuhan yang dapat membuat mereka menjadi orang baik dan sukses. Keyakinan bahwa hidup ini disiapkan untuk membentuk dirinya menjadi orang yang hebat. Keyakinan bahwa semua orang di sekitarnya adalah orang baik dan dapat mendukungnya. Jika ada kritik dan cacian, maka itu adalah modal untuk membuktikan mereka mencapai kebaikan dan keberhasilan. Dan ajarkan semua keyakinan baik lainnya. Sekali lagi keyakinan itu akan mempengaruhi bagaimana responnya terhadap kenyataan dalam hidupnya.

Fase Kedua adalah: MEMAHAMI

Tidak cukup dengan hanya YAKIN saja. Mereka juga didorong untuk belajar, mengetahui dan mencapai pemahaman yang tepat. Pemahaman yang tepat tentu diperoleh dari proses belajar yang tepat, dibimbing oleh guru yang tepat, dengan proses yang sesuai.

Keyakinan tanpa pemahaman akan menjadi keyakinan buta dan brutal. Sementara pemahaman tanpa keyakinan pun hanya akan menjadi omong kosong. Jadi keduanya harus berurutan dan berkelanjutan.

Adakalanya keyakinan seyogyanya harus teruji dalam pemahaman. Ada orang bilang, keyakinan tidak butuh rasionalisasi. Saya kira itu betul, tapi saya pasti lebih setuju sebaliknya.

Jika seseorang YAKIN ia dapat berhasil (apapun), maka porsi pemahaman bukan hanya bertanya mengapa atau untuk apa, dia harus melangkah maju dengan bertanya “bagaimana caranya agar keyakinan ini dapat diwujudkan dengan nyata?” Nah, pemahaman inilah yang paling penting untuk diketahui dan dipelajari. YAKINI dan PAHAMI CARA-nya.

Fase Ketiga yaitu: MELAKUKAN (Bertindak)

Keyakinan hanya menjadi mitos jika tidak dapat direspon atau diwujudkan dalam bentuk tindakan. Dan Tindakan tidak memiliki extra energy jika tidak dilandasi oleh keyakinan. Tindakan tidak mudah dilakukan tanpa pemahaman, karena pemahaman yang tepat menjadi kunci bagi semua tindakan turunannya.

Keyakinan baru akan sempurna jika diikuti oleh tindakan. Tidak cukup dengan hanya prinsip, “Just Do It”. Tindakan harus terencana, tertata, terstruktur dan terukur. Tujuannya agar tindakan tersebut benar-benar menghasilkan sebagaimana yang diharapkan.

Ketiga fase tersebut dapat disederhanakan menjadi IMAN, ILMU dan AMAL. Iman adalah urusan hati, ilmu adalah urusan akal, dan amal adalah urusan cara bertindak. Ketiganya harus berpadu dan sejalan agar tidak gesekan dalam kesatuan yang berkelanjutan.

Terimakasih


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *