4 Cara Menemukan Peluang dan Ide Bisnis yang Bisa Diseriusin

Saya heran mengapa Unilever menguasai hampir seluruh pasar kebersihan, baik kebersihan badan maupun lingkungan. Saya tidak ingin menyoroti dari aspek dominasi usaha, namun coba kita perhatikan semua ide layanan dan produk kebersihan masuk dalam raupan mereka. Mengapa demikian?

Perusahaan yang terus growth terus open mind pada perubahan dan peluang. Dan pada saat mereka open mind mereka menemukan berbagai jenis layanan dan produk yang beririsan dengan pengembangan produk-produk selanjutnya. Kita bisa saja memperhatikan ide dan peluang bisnis dalam banyak situasi.

Nah, bagaimana diri kita berefleksi terhadap tuntutan saat ini? Jika Anda ingin memulai bisnis atau usaha, maka temukan ide dimana Anda bisa survive, berkompetisi, dan memenangkan ide bisnis Anda. Semua potensi itu ada mungkin kita belum menyadarinya.

Berikut 4 cara menemukan peluang dan ide bisnis yang bisa ditindaklanjuti.

1. Temukan hobi atau hal-hal yang Anda kuasai dan Anda sukai.

Mengapa hobi? Hobi berarti semua aktivitas yang anda gandrungi dan Anda rela mengorbankan waktu dan biaya untuk menekuninya. Anda tidak lagi berhitung untung dan rugi, karena hobi menghasilkan kepuasan psikologis. Nah, dari pada Anda sekedar menguras resources yang ada kenapa sekaligus tidak Anda jadikan sebagai peluang usaha atau bisnis Anda.

Ide Bisnis Potensial = Dikuasai + Disukai + Menjawab Kebutuhan/Masalah Konsumen

Semua ide bisnis bisa saja dieksekusi dan dipraktekkan. Namun apakah ide tersebut menjawab kebutuhan atau masalah konsumen? Semua layanan bisnis dan produk apapun pasti menjawab masalah konsumen. Apabila ide Anda mampu menjawab masalah konsumen, ide tersebut Anda kuasai, Anda mampu menjalani aktivitasnya, dan Anda siap untuk larut sepenuhnya dalam rangkaian aktivitas turunannya.

2. Selalu bertanya: Hal apa saja yang mungkin bisa dihasilkan dari situasi ini?

Buka mata anda, lihat segala hal di sekitar Anda, ada banyak hal yang mungkin memicu ide kreatif Anda. Tahap ini membutuhkan kemampuan berpikir kritis. Orang kritis sering bertanya untuk menemukan jawaban atas rasa ingin tahunya. Mungkin saja pertanyaannya seperti menihilkan atau menafikan, tapi biarkan saja karena otak pasti akan menemukan jawabannya.

Bagaimana cara bertanya? Terdapat 3 level cara bertanya. Level pertama bertanya “APA, KAPAN, DIMANA”, Level kedua bertanya “MENGAPA”, dan Level ketiga “BAGAIMANA”. Tanyakan pada diri Anda mekanisme Level ketiga. Pertanyaan ketiga akan mengeksplorasi segala kemungkinan penjelasan baik yang masuk akal atau tidak masuk akal. Ingat satu hal, jangan menertawakan apapun pertanyaan dan jawabannya.

3. Catatlah Ide Apapun dan Jangan Dipertanyakan

Otak bekerja dengan cara yang unik. Selama kita sadar kapanpun dan dimanapun ia akan merespon setiap hal yang diterimanya. Apa yang harus Anda lakukan, sesekali Anda harus berhenti dan perhatikan ide-ide yang muncul, splashing ide dapat melahirkan atau memicu ide-ide lainnya.

Seringkali saya menyarankan siapapun yang ingin mengembangkan cara berpikir kreatif dan imajinatif untuk merecord baik tulisan maupun suara ide-ide yang muncul. Setelah terkumpul baru dikategorikan, dikoneksikan, dan disaring mana yang bisa ditindaklanjuti atau dibuang. Namun kalo dibuang tidak saya sarankan karena ide tertentu akan menemukan momentumnya pada suatu waktu. Ide-ide tertentu mungkin membutuhkan masa untuk diolah dalam proses berpikir kritis atau kreatif.

4. Berkunjung dan berdiskusi dengan kompetitor

Kompetitor seringkali berpikir pada wilayah yang sama dengan kita. Pertanyaan standardnya adalah “hal apa lagi yang harus dilakukan agar layanan/produk ini diterima dan terus dimanfaatkan oleh konsumen. Dengan berkunjung atau berdiskusi dengan kompetitor, Anda akan menemukan celah dari sudut pandangnya. Apakah kita harus mencuri idenya? Tentu saja tidak. Yang harus kita lakukan adalah memodifikasi atau mengadaptasikan celah tersebut pada area pengembangan layanan atau produk kita.

Paradigma bisnis lama adalah kompetitor sebagai lawan di pasar, namun sekarang kita harus berpikir celah dalam memberikan pelayanan dan produk terbaik. Rumus ATM (Amatin, Tiru, Modifikasi) bisa berlaku juga bisa tidak berlaku. Tidak berlaku jika Anda meniru apa adanya tanpa modifikasi. Tidak sekedar modifikasi namun memberikan nilai tambah yang lebih atau berbeda dari sebelumnya.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pengembangan ide-ide bisnis Anda. Salam Sukses Luar Biasa.

Ilhamuddin Nukman | @CoachILHAM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *