Air terus mengalir, angin berhembus, waktu terus berlalu. Dalam setiap momen ada perubahan dan kenangan. Tidak ada satupun situasi yang akan sama. Everything is change, even you.

Setiap perubahan melahirkan tuntutan untuk beradaptasi. Hanya tidak semua orang menerima perubahan dan siap beradaptasi. Begitu juga dengan setiap usaha atau ikhtiar kita dalam kehidupan ini.

Seringkali kita membuat rencana yang begitu indahnya, membayangkan proses yang begitu mudahnya, dan berharap dukungan yang berlimpah dari setiap orang. Hanya kenyataan memang tidak sesempurna imajinasi. Dalam situasi seperti inilah kita dituntut untuk berpikiran terbuka, dan hati yang lapang (terbuka).

Berpikiran terbuka untuk menerima setiap kritik dan saran dari orang lain. Kadang-kadang saat kita berada dalam posisi diri sendiri, kita melihat dengan bayangan sendiri, imajinasi sendiri, dan melihatnya begitu sempurna.

Bagaimana dengan orang lain? Mereka juga punya perspektif berbeda, bisa jadi salah mungkin juga benar. Berpikiran terbuka saya ibaratkan melihat lukisan yang indah. Hanya saja lukisan itu tidak akan bermakna jika kita ada dalam lukisan tersebut. Kita hanya bisa mengagumi diri sendiri. Untuk melihat baik atau buruknya lukisan, kita harus  keluar dari lukisan tersebut. Jika perlu meminjam mata orang lain untuk mengkritisi lukisan tersebut.

Jika kita gagal untuk open mind, kita tidak akan mudah menerima masukan orang lain. Yang ada, kita hanya akan terkunci dalam pikiran dan penilaian diri sendiri. Akibatnya kita kesulitan kembali beradaptasi dengan luwes terhadap perubahan.

Bagaimana dengan Open Heart? Yaitu suatu sikap yang tidak mudah Baperan. Tidak mudah sakit hati ketika menerima penolakan, tidak tidak mudah dendam. Kunci dari open heart adalah keikhlasan untuk menerima perbedaan dan pertentangan tanpa merusak persahabatan dan kekeluargaan.

Malang 1 September 2020


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *