Belajar Bertutur dan Bertindak di IAIN Parepare

Bulan Ramadhan 2018 ini saya mendapatkan kehormatan untuk mengunjungi kampus IAIN Parepare. Kampus yang Islami di Kota Santri Parepare. Banyak kesan indah yang saya peroleh dari IAIN Parepare juga Kota Santri Parepare (tapi untuk Cerita Kota Parepare nanti saya buat tulisan sendiri).

IAIN Parepare baru saja beralih status dari STAIN menjadi IAIN dan itupun baru terjadi satu bulan terakhir. Makanya saya melihat ada rona semangat dan spirit perubahan dari wajah-wajah civitas academika IAIN Parepare yang saya temui. Pak Rektor IAIN Parepare, Dr. Ahmad Sultra Rustan, menjelaskan secara tersirat bahwa perubahan ini harus dilihat oleh semua civitas academika sebagai batu loncatan untuk meraih kemajuan yang lebih baik bagi IAIN Parepare. Saya pun mengamini hal tersebut.

Saat berdiskusi dengan Pak Rektor sembari menikmati tarian penyambutan tamu dari mahasiswa bidikmisi IAIN Parepare, mata saya tertuju pada tulisan dalam Backdrop Aula:

Malebbi warekadana
Makkiade ampena

Bagi saya, suatu kalimat yang ditulis secara eksplisit bermakna kalimat itu penting untuk diperhatikan atau setidaknya ia merupakan slogan yang harus dihafalkan. Dan saya akan memegang makna yang pertama, karena saya yakin itu pasti bermakna sesuatu yang luhur. Sayangnya saya tidak berkesempatan untuk menanyakan hal itu kepada Pak Rektor.

Hingga saat saya diajak makan malam oleh Panitia yaitu Bu Dr. Jamilah, Bu Dr. Herdah Maesara, Ustadz Dr. Budiman, dan Pak Nandar (Pengelola Bidikmisi), saya baru menanyakannya. Menurut beliau-beliau ini kalimat tersebut bermakna Sopan dalam bertutur, santun dalam bertindak.

Waw, kalimat itu tentu saja menjadi inti dari nilai-nilai keislaman. Saya ingat salah satu hadist, “Jika engkau tidak bisa berbicara baik, maka lebih baik engkau diam.” Akhlak seseorang belum akan nampak jika ia belum mampu bertutur kata yang baik, tidak cukup hnya dengan baik namun juga ia harus sopan. Tidaklah ada artinya ilmu yang tinggi jika tidak mampu menggunakan ilmu tersebut untuk menjaga akhlak bertutur yang sangat sopan.

Sopan dalam bertutur, bagi saya bermakna, tahu dan mampu memposisikan bahasa dengan sangat baik dan tepat saat berbicara dengan orang lain. Jika berbicara dengan orang yang lebih tua maka tuturnya harus penuh penghormatan, sebaliknya jika bertutur dengan orang yang lebih kecil maka tuturnya harus penuh wejangan dan perhatian, kasih sayang, dan doa.

Santun dalam bertindak. Itu penting. Islam sendiri mengajarkan bahwa akhlak (adab) lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan ilmu. Seseorang yang berilmu namun tidak punya adab/akhlak yang baik, maka ilmunya baru di kulitnya saja. Artinya ia belum mampu memahami ilmunya dengan mendalam dan penuh kebijaksanaan.

3 hari di IAIN Parepare seakan-akan mengingatkan saya dengan ajaran Kyai-kyai kami di Pesantren Tebuireng dulu, bahwa “dimanapun engkau berada maka akhlak harus dikedepankan.” Dan slogan Malebbi warekadana Makkiade ampena, merupakan manifestasi dari akhlak yang mulia.

Maju terus IAIN Parepare karena di jantungmu itulah akan lahir pemuka-pemuka masyarakat yang mampu bertutur dengan sopan dan santun dalam bertindak. Suatu saat mereka akan menjadi cendekiawan yang tidak hanya penting bagi masyarakat Sulawesi, namun juga untuk Indonesia dan Islam. Sampai ketemu di Training-training lainnya.

2 thoughts on “Belajar Bertutur dan Bertindak di IAIN Parepare

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *