Esensi Keimanan dalam Kehidupan

Beberapa tahun yang lalu saya mengemukakan keinginan membeli sepeda pancal kepada istri saya. Meskipun pembelian itu tidak harus atas persetujuan istri namun saya tetap menanyakannya. Istri saya merespon, “Untuk apa beli sepeda, kan sudah ada motor?” “Buat olahraga.” Jawab saya. “Yakin mau olahraga dengan sepada?” Tanya istri saya balik. Pertanyaan istri saya membuat saya berpikir, ia benar juga ya, apa saya yakin mau olahraga dengan sepeda, kenapa tidak jalan kaki saja. Alhasil sampai hari ini pun saya tidak jadi beli sepeda, meski istri saya pernah menawarkannya.

Urusan sepeda yang kecil saja, membuat saya berpikir bahwa setiap keputusan harus dilandaskan pada alasan yang cukup jelas agar resiko dari keputusan tersebut dapat dipertimbangkan, apalagi untuk yang lebih esensial bagi kehidupan kita. Hal yang paling esensial bagi manusia adalah memiliki keyakinan yang menjadi fondasi dasar bagi cara ia menjalani kehidupannya (the way of life). Keyakinan itu harus berdasarkan pada kebenaran yang dapat dipikirkan dan berlandaskan ajaran agama. Mungkin sebagian Anda akan mengatakan, mengapa harus agama kok bukan yang lain, seperti nilai-nilai kemanusiaan, nilai moralitas dan sosial, dan lain sebagainya. Saya tidak ingin fokus pada diskusi tentang mana nilai-nilai yang bersifat benar mutlak atau benar nisbi. Silakan membaca buku-buku Teologi Agama atau Psikologi Agama tentang hal ini. Semoga suatu saat dapat saya ulas kembali.

Iman adalah……

Kembali kepada ajaran agama sebagai sumber keyakinan. Keyakinan dalam agama Islam disebut dengan IMAN yang berasal dari kata bahasa Arab, amana yu’minu iimaanan yang berarti mempercayai atau membenarkan. Sebagai sesuatu yang dipercayai dan dibenarkan, maka agama menjadi sumber referensi utama dalam menentukan jalan hidup manusia. Sudah menjadi kesepakatan bagi para ulama bahwa IMAN didefinisikan sebagai objek yang diyakini dan dibenarkan (tashdiq) dalam hati, diutarakan dalam bentuk pengakuan (ikrar), lalu direpresentasikan dalam bentuk perbuatan baik berlandaskan pada nilai-nilai yang telah dibenarkan dan diyakini. Imam Syafi’i bahkan menyebutkan tidak cukup iman itu hanya dengan pengakuan dalam hati atau ungkapan atau perbuatan saja. Ketiganya harus disatukan dalam tindakan dan perilaku hidup orang-orang yang beriman. Berdasarkan penjelasan ini, maka IMAN mencakup apa-apa saja yang harus dibenarkan dan diyakini, bagaimana cara mengungkapkan atau mengikrarkannya, dan perbuatan yang bagaimana dapat mewakili keimanan tersebut.

Iman penting karena…..

Iman penting bagi manusia karena 3 hal, yaitu: (1) sumber nilai-nilai bagi referensi kehidupan manusia, (2) panduan cara hidup, dan (3) orientasi hidup.

Saya meyakini bahwa tidak ada satu aspek pun dalam kehidupan yang tidak memiliki nilai. Bahkan nilai dapat menjadi sumber referensi dan inspirasi bagi kehidupan manusia atau nilai hanya sebatas penunjukkan derajat kepentingan atau perbandingan suatu hal di hadapan hal lain. Uang bernilai sebagai alat tukar menukar, namun di sisi lain uang bernilai bukan sebagai alat tukar menukar tetapi karena keunikan atau kekunoannya.

Sebagai sumber referensi nilai-nilai bagi kehidupan manusia, maka IMAN adalah cermin bagi layak atau tidaknya, boleh atau tidaknya, bagus atau tidaknya suatu hal bagi kehidupan. Dalam konteks ini maka KEIMANAN menjadi dasar bagi Aqidah seseorang. Sementara sebagai panduan cara hidup, maka IMAN adalah sebuah metode, pendekatan, strategi, praktek tentang cara hidup yang baik, menyehatkan, membahagiakan, mensejahterakan, mensukseskan, bahkan menghadirkan berlimpah keberkahan bagi kehidupan manusia. Adapun iman sebagai orientasi hidup, maka IMAN dapat menjadi peta arah bagi seorang manusia yang melakukan perjalanan menuju kesejatian hidupnya. Kesejatian hidup ini bermakna menemukan apa yang benar dalam kehidupannya sehingga layak diperjuangkan dengan baik dan benar. Pada hasil akhirnya perjuangan ini akan menghadirkan kedamaian dan kebahagiaan yang abadi sepanjang sejarah perjalanannya saat ini dan nanti.

IMAN berfungsi untuk…..

Iman dapat melahirkan dorongan yang kuat untuk mendekatkan diri pada Alloh Yang Maha Tinggi, mempertanyakan tujuan hidupnya, memerdekakan dirinya dari ketakutan-ketakutan irasional, menjadi lebih sabar dalam tekanan dan kesedihan, memiliki semangat hidup dan penuh harapan, lebih sederhana dan proporsional menilai sesuatu.

Saat IMAN bekerja dengan baik dalam diri seseorang, maka ia akan mengejawantahkan kehidupan yang penuh dengan keimanan, lebih banyak menebar manfaat, berorientasi pada kebaikan, penuh kebahagiaan dan ketenangan, dan memancarkan aura kedamaian dalam hidupnya. Iman yang baik dan benar serta diikuti dengan perbuatan baik (amal sholeh) akan menjadi energi bagi terciptanya kehidupan yang baik, kesejahteraan serta kemakmuran, dan berlimpah keberkahaan langit dan bumi.

Semoga KEIMANAN yang Utuh, Baik, Benar, dan Kuat terpatri dalam kehidupan kita sehingga kita menjadi orang-orang yang diberkahi dengan keimanan yang menyemangatkan, mendamaikan, dan mendorong pencapaian kehidupan yang lebih bermakna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *