Sejak lahir hingga saat ini, kita dibesarkan dengan berbagai macam nilai dan prinsip hidup. Dimana pun kita berada prinsip itu ada, dan kita menghormatinya sebagai bagian dari sistem kehidupan yang membantu kita agar selaras dengan kehidupan itu sendiri. Jika kita selaras, lebih sedikit konflik dan masalah yang dihadapi, sebaliknya jika melanggar dan tidak patuh terhadap nilai, akan ada lebih banyak kesulitan yang dihadapi dalam hidup.

Maja Labo Dahu, adalah prinsip dasar hidup bagi masyarakat Bima (Suku Babuju, Mbojo) pada umumnya. Setiap waktu dan di setiap kesempatan, para orangtua, guru, pemuka masyarakat, pemuka agama menyuarakan ini sebagai standar dan acuan. Meski kadang frasa ini kompleks maknanya, namun ketiga kata tersebut cukup mudah dimengerti bahkan oleh anak kecil.

MAJA berarti malu, LABO berarti dengan, dan DAHU berarti takut. Malu memiliki isi makna sesuatu yang tidak boleh ditunjukkan atau diketahui oleh orang lain. Maka MALU ini menjadi sesuatu yang mengikat masyarakat Bima agar tidak melanggar norma-norma yang ada.

Kita mungkin mampu menyembunyikan hal-hal MEMALUKAN dari orang lain. Namun bagaimanapun kita tidak bisa menyembunyikannya dari diri kita sendiri dan Alloh SWT. Bayangkan saja jika MALU ini menjadi patokan dalam mengatur tindak tanduk kita yang sering kelewat batas, mungkin saja kita menjadi tahu diri untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak baik dan benar.

Dalam Bahasa Bima, saya sering mendengar:
MAJA JA KU DI WEKI NDAIMU (Malulah pada dirimu sendiri)
MAJA JA KU DI DOU SA UDU (Malulah pada orang banyak / masyarakat)
MAJA JA KU DI RUMA (Malulah pada Tuhan).

Bahwasanya dimensi “MALU” ini dapat melewati batas diri yang terbatas hingga kepada Tuhan yang tidak terbatas. Saya kira ini dapat menjelaskan mengapa Rasulullah Saw, menyebutkan bahwa “malu itu sebagian dari iman” (HR. Muslim). Dan malu itu dapat mendatangkan kebaikan (HR. Bukhari)

Dengan menjaga rasa “malu” kita menjaga diri agar tetap baik dan luhur kehormatan diri. Dengan malu pula kita dapat menata kata dan perbuatan agar tidak menyakiti dan merendahkan orang lain.

LABO berarti dengan. Dalam makna bahasa, kata yang diikuti oleh “dengan” bermakna secara bersama-sama. Dan kata sebelum atau sesudahnya memiliki tingkatan kekuatan dan pengaruh yang sama-sama besar serta sama-sama pentingnya. Sehingga jika saya memaknai MAJA LABO DAHU artinya nilai MAJA itu penting begitu juga nilai DAHU. Keduanya tidak boleh dilihat secara terpisah karena memiliki keterkaitan dan ketersambungan.

DAHU sendiri berarti takut. Memang takut memiliki dua kemungkinan makna, yaitu takut karena konsekuensinya atau takut karena berusaha memastikan cara dan hasilnya harus baik dan benar.

Jika disalahkan artikan, bisa jadi rasa takut membuat orang tidak mau bertindak karena menyerah atau bahkan dari pada salah lebih baik diam saja. Menurut saya ini cara yang salah dalam memaknai takut. Dan hasilnya regresif tidak produktif. Dengan memaknai DAHU secara tidak tepat, kita akan menjadi pribadi yang tidak mau mencoba, tidak berani gagal, hanya diam dan menunggu, dan menjadi penakut yang akut.

Sebaliknya, menurut saya, DAHU dengan dimaknai secara produktif, progresif dan tepat membuat kita menjadi orang yang waspada namun tetap konstruktif. Contohnya begini: Saya takut gagal, maka supaya tidak gagal saya memastikan persiapan saya sudah baik dan benar. Saya takut jatuh, maka supaya tidak jatuh saya pastikan pijakan dan pegangan saya sudah baik, benar dan kuat. Dengan demikian kita menjadi pribadi yang penuh persiapan, mampu memilah dan memilih yang terbaik dan yang terbenar.

———————–

Hampir 21 tahun saya meninggalkan Bima, tanah kelahiran saya, masihkah orangtua menyampaikan pesan anaknya untuk: “MAJA LABO DAHU anae”. Masihkah para saudara masih saling mengingatkan “MAJA LABO DAHU arie”. Masihkah masyarakat / rakyat memberikan nasehat kepada para pejabat “MAJA LABO DAHU para pejabat e”. Masihkah para suami menasehati istrinya “MAJA LABO DAHU.

Saya merindukan masa-masa dulu ketika pulang-pergi dari Bima ke Jawa dan pesan “MAJA LABO DAHU” menyertai saya dari orangtua, para tetua masyarakat, tetangga, keluarga besar.

Semoga MAJA LABO DAHU masih menjadi sistem nilai bagi keluhuran masyarakat Bima dan selamanya akan tetap menjadi nilai dan norma yang mengalir dalam darah anak-anak Bima.

SELAMAT TINGGAL TAHUN 2020
SELAMAT DATANG TAHUN BARU 2021

Semoga segala kebaikan, keberhasilan, kebahagiaan dan keberlimpahan menyelimuti kita semua. Aamiiin Ya Rabbal’aalamiin


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *