Orangtua mengajarkan kita sebelum tidur harus berdoa. Doa itu bukan hanya sebagai pembuka aktivitas tidur, namun doa tersebut juga adalah sebuah penyertaan harapan agar besok kita dihidupkan kembali. Begitu pun sebelum dan sesudah makan kita pun berdoa dengan harapan rezeki yang kita makan semakin bertambah dan membuat kita menjadi lebih bersyukur.

Sesungguhnya kita semua adalah pengejar harapan. Harapan untuk selalu hidup bahagia. Harapan untuk esok hari akan lebih baik. Harapan agar di tempat kerja kita memperoleh kinerja dan prestasi. Harapan agar dapat memberikan yang terbaik untuk keluarga. Dan masih ada lagi ribuan harapan yang kita inginkan.

Setiap pagi kita berangkat bekerja, berbisnis, mengerjakan proyek, semuanya merupakan bagian dari mengejar harapan. Berusaha mendapatkan bagain terbaik dari harapan-harapan kita. Walaupun pada sebagian situasi, harapan itu tidak selalu mewujud sesuai apa yang kita inginkan, namun tetap saja kita tidak diizinkan untuk melepaskan harapan tersebut.

Di antara sekian banyak alasan untuk bertahan dalam situasi sesulit apapun, salah satunya adanya harapan setiap ada kesulitan akan ada dua kemudahan. Kemudahan pertama, kita terbiasa dengan kesulitan tersebut, karena kita memiliki pengalaman pembelajaran atas situasi tersebut. Kemudahan kedua, kita menjadi sadar bahwa kesulitan sekompleks apapun, suatu saat akan berakhir dengan sendirinya atau kita semakin mampu menyelesaikannya.

Mengejar harapan berarti kita memposisikan diri sebagai pejuang tangguh dan tidak mengenal menyerah untuk mendapatkan hal-hal baik dalam kehidupan ini. Seseorang tanpa harapan seperti kendaraan tanpa bahan bakar. Harapan adalah energi ekstra dan utama dalam diri manusia yang mendorong mereka untuk bekerja, berusaha, dan belajar apapun kondisi yang dihadapi.

Sayangnya dalam perjalanan hidup kita, jarang sekali diajarkan untuk mengelola harapan dengan baik. Bahkan sering pula kita temui beberapa orang yang menjadi pembunuh harapan. Mereka disebut sebagai pembunuh harapan karena kebiasaannya menyepelekan perjuangan orang lain, mengkritik cara orang lain, tidak bisa menerima rencana orang lain, dan cenderung memaksakan keinginan mereka. Seakan-akan ukuran mereka adalah yang paling baik buat kita.

Karena kita semua adalah pengejar harapan, maka jadilah pengelana baik. Kita tahu apa yang kita harapkan dalam hidup ini. Kita juga menyadari prioritas-prioritas utama dalam kehidupan dan pekerjaan. Dan kita mampu mengelola diri agar selaras dengan harapan-harapan kita.

Harapan menjadi visi bagi perjuangan hidup seseorang. Ayah dengan segala keterbatasannya berusaha memberikan yang terbaik bagi anaknya, begitu pula dengan perjuangan ibu. Keduanya pun mengejar harapan terbaik dalam kehidupan keluarga. Sebaliknya si anak-anak berusaha dan belajar dengan sungguh agar meraih harapan mereka.

Tidak peduli sekecil atau seremeh apapun harapan Anda, tetaplah menata harapan-harapan baik dalam hidup ini. Harapan baik ini menjadi pemandu agar kita tidak kehilangan arah dan tetap focus pada prioritas-prioritas penting dalam hidup kita. Fokus pula pada hal-hal baik atau positif agar harapan kita tidak tercemari dengan keyakinan atau pikiran negative. Jika pun ada orang lain yang memiliki pikiran, keyakinan atau sikap yang keliru, maka usahakan untuk konsisten pada proses yang ada.

Harapan sesungguhnya pernyataan kepasrahan kita kepada Allah SWT, sebagai bukti bahwa kita lemah, tidak mampu dan tidak memiliki kekuasaan apapun. Kepasrahan tersebut tidak bersifat pasif, dimana kita pasrah dalam arti menyerah. Menyerah artinya tidak ada perjuangan kembali. Sementara dengan kepasrahan positif, kita meletakkan semua harapan terbaik kepada Allah SWT, dan kita juga bertindak patuh atas apapun hasil yang diberikan oleh-Nya.

Semoga harapan-harapan baik dalam hidup menyertai kehidupan Bapak/Ibu dan mewjud menjadi kenyataan dan pengalaman baru.

By Coach ILHAM


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *