Pesantren ada di LAPAS, Kok Bisa ya?

Alhamdulillah puasa hari pertama berjalan dengan baik. Hari ini saya berkesempatan mengunjungi LAPAS Pria Lowokwaru Malang. Di dampingi Kepala LAPAS, Bapak Faried, dan perwakilan pengurus HIMPSI Malang, saya diajak berkeliling melihat situasi di beberapa Blok, hingga kami sampai di Pesantren At-Taubah.

Pesantren At-Taubah merupakan pesantren yang disiapkan bagi para warga binaan lapas yang bersedia untuk masuk pesantren. Berbeda dengan blok LAPAS pada umumnya, di Pesantren At-Taubah kegiatannya dominan pengajian. Bahkan menurut Kepala LAPAS, Pesantren At-Taubah ini didukung oleh MUI Kota Malang, YASA, UMMI, dan Rampak Naong.

Melihat Pesantren At-Taubah, mengingatkan saya 18 tahun yang lalu saat di Pesantren Tebuireng. Pesantren merupakan sentral pendidikan aqidah, akhlak, muamalah, organisasi, profesional, dan pendidikan itu sendiri. Di pesantren tidak ada pemisahan antara belajar agama atau umum. Semuanya berpadu dalam rangkaian kurikulum tarbiyah ala pesantren. Meskipun Pesantren Tebuireng saat itu sudah bertransformasi menjadi pesantren modern, namun tidak meninggalkan ciri khas salaf dan tradisionalnya.

Nanti lain waktu saya akan menulis tentang Pesantren Tebuireng. Sekarang saya ingin kembali ke Pesantren At-Taubah di LAPAS Lowokwaru, Malang.

“Di Pesantren At-Taubah, banyak warga binaan yang tidak bisa baca Alquran akhirnya sekarang sudah bisa. Bahkan 30 di antaranya baru saja Wisuda Qur’an metode Ummi.” Begitu penjelasan salah satu warga binaan.

Saya cukup kaget saat masuk ke dalam ruangan warga binaan ada beberapa Kitab Kuning dasar yang cukup akrab dalam memori saya, seperti Aqidatul Awwan dan Ta’limul Muta’allim. Ternyata mereka pun di sini tetap ngaji “Bandongan” ala pesantren di bawah asuhan Kyai-kyai yang ada di Malang Raya. Ngaji Bandongan adalah tradisi ngaji kitab ala pesantren, dimana santri mendengarkan Kyai atau Ustadz nya membacakan kitab kuning sambil maknani (memberi makna) pada teks yang dibaca Kyainya.

Menurut saya, Pesantren ala LAPAS dapat menjadi alternatif metode pembinaan warga LAPAS sehingga saat warga binaan ini sudah bebas dari masa tahanan atau hukuman, mereka akan kembali ke masyarakat dalam keadaan mental dan sosial emosional yang stabil dan tenang. Pada akhirnya mereka dapat beradaptasi kembali dengan masyarakat dengan sangat baik dan berusaha menjadi lebih baik.

Meskipun status warga binaan ini adalah narapidana, namun melihat wajah mereka yang cerah dan tenang, maka saya yakin kehidupan mereka akan lebih baik. Anggap saja sementara mereka di lapas untuk mondok dan mencari ilmu sebagaimana para santri meninggalkan rumahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *