Saat menulis bagian ini rasanya saya seperti kehilangan ide dan energi untuk menulis, namun karena tuntutan harus menulis setiap hari akhirnya saya pun memaksa diri. Setelah saya cermati, kesulitan saya ini karena terlalu banyak membuat kerangka tulisan yang tidak perlu. Mestinya tinggal menulis aja. Toh pada akhirnya, saat menulis ide pun akan keluar sendiri.

Segala sesuatu yang terlalu atau berlebihan itu tidak baik. Karena nanti akan menimbulkan kesulitan. Kesulitan untuk kita menyamai rekor lebihnya di masa depan, atau kesulitan untuk memperbaikinya jika telah melakukan kesalahan yang signifikan. Ini yang saya rasakan karena terlalu kompleks merencanakan apa yang harus saya tulis.

Memang biasanya sih saya akan membuat list apa saja yang akan saya tulis dalam periode waktu tertentu. Namun sepertinya itu kurang berlaku jika dijadikan sebagai kerangka kerja untuk menulis blog. Catatan: mungkin hal ini tidak berlaku buat Anda. Dan Anda pasti punya strategi yang berbeda.

Sederhana saja, jika ingin menulis, ya menulis aja. Tidak perlu dibuat sulit dengan berbagai standar yang akan membuat pikiran kita menjadi lebih kompleks. Saya menyadari saat menulis, pikiran butuh rileks dan lepas agar alur berpikirnya berjalan apa adanya.

Sebenarnya pikiran kita bergerak sangat cepat. Saking cepatnya ide-ide dalam pikiran bisa melompat ke sana kemari. Sehingga untuk segera merekam berbagai ide yang splashing tersebut maka harus ditulis. Bagi saya menulis itu berarti menata alur berpikir secara perlahan mengikuti kecepatan tangan saya mengetik.

Teknik menulis sederhana ini dapat digunakan untuk apapun. Sebagai contoh jika ditempat kerja Anda sedang menghadapi masalah, Saran saya segera ambil kertas dan bolpoin atau pensil. Segera tulis apa yang menjadi masalahnya. Tidak perlu terburu-buru untuk membuat alurnya. Tulis semua yang Anda anggap sebagai masalah setelah cukup banyak coba hubungkan semua yang Anda tulis dengan logika sebab-akibat. Kemudian tanyakan lagi, apakah semua itu saling berhubungan dan mempengaruhi. Terus begitu sampai Anda menemukan pola.

Teknik pengambilan keputusan pun akan jauh lebih mudah. Tulis saja. Sesederhana itu.

Contoh lain, saat saya membantu klien saya untuk melakukan eksplorasi diri. Biasanya sebelum bertemu saya akan meminta sang klien untuk mengirimkan email atau WA ke saya dengan beberapa pertanyaan panduan dari saya. Semakin banyak yang mereka tuliskan semakin banyak pula Informasi tentang dinamika psikologis yang dapat saya ungkap. Dan jika ada suatu hal yang saya kurang yakin atau perlu konfirmasi, maka saya kirimkan kembali pertanyaan panduan lanjutan.

Meskipun dalam Psikologi saya belajar wawancara dan observasi untuk menggali data dari Sang Klien, namun saya lebih prefer menggunakan wawancara tertulis sebelum wawancara langsung dan observasi. Semua itu memudahkan saya untuk mendapatkan insight yang banyak dan beragam dalam memahami perspektif masalah yang dihadapi.

Ini juga bisa kita lakukan untuk meredam kemarahan atau berbagai intensitas emosional yang kita rasakan. Ambil kertas dan coba tulislah bagaimana pikiran dan perasaan Anda tentang suatu hal yang membuat Anda marah atau intensitas emosional lainnya. Gali lagi lebih dalam, apakh itu disebabkan oleh respon emosional kita atau kita mispersepsi atas semua itu.

Jadi sekali lagi sederhana saja. Menulislah meskipun Anda tidak punya ide. Apa yang ditulis? Ya menulis tentang apa yang membuat Anda tidak punya ide. Untuk menyalakan korek api, tidak perlu menggesek korek api itu semuanya, cukup ada percikan awal sudah cukup untuk menyalakan korek tersebut. Begitu pun dengan pikiran dan ide-ide dalam pikiran kita.

Jadi sederhana saja dan lakukan segera.


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *