Bangsa ini telah diwarisi dengan kekayaan alam dan budaya yang tidak terhitung nilainya. Mulai dari Sabang sampai Merauke, adalah karunia Tuhan kepada Indonesia. Berbagai macam flora dan fauna menambah kecantikan bangsa ini.

Sesungguhnya kita terlahir sebagai bangsa yang diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk mengelola karunianya demi terwujudnya keadilan social dan kesejahteraan yang merata bagi seluruh bangsa Indonesia. Namun, sudahkah kita bersyukur?

Pernahkah terbayangkan oleh imaji kita untuk berterima kasih atas karunia yang sangat banyak ini? Pernahkah kita bersikap sebagai bangsa yang bertanggung jawab terhadap semua anugerah ini? Mungkin saja jawabannya belum.

Bersyukur bukanlah perilaku pasif dengan mengucapkan “terima kasih”. Ia menuntut lebih dari sekedar kata “terima kasih” tetapi sikap berterima kasih. Sikap tersebut memiliki tiga aspek perilaku, yaitu hati atau pikiran (mind), verbal (mouth) dan sikap (attitude).

Jika kita merasakan keagungan karunia Tuhan terhadap bangsa ini, lalu menyatu dalam pikiran dan perasaan kita, itu baru bersyukur dengan hati dan pikiran. Memang kelihatannya sederhana, sekedar merasakan dengan pikiran dan perasaan. Tapi, internalisasi sebuah realitas dalam diri bukanlah hal yang mudah karena ia akan membawa pengaruh psikologis terhadap cara pandang dan sikap bagi yang merasakannya. Kita tidak bisa mendeskripsikan kondisi ini, ia hanya bisa dirasakan dan dipikirkan. Kenikmatan bersyukur dalam aspek ini diperuntukkan bagi pelakunya saja.

Bersyukur dengan ucapan atau verbal, selama ini dipahami dengan mengucapkan “terima kasih” atau bagi orang Islam dengan “alhamdulillah”. Tapi menurut saya, syukur secara verbal tidak cukurp hanya dengan ucapan semacam itu, karena akan mempersempit makna syukur itu sendiri.

Sebagaimana dalam teori psikologi, apa yang pikirkan dan dirasakan memiliki efek secara langsung terhadap persepsi manusia. Jika yang ada dalam pikiran dan perasaan adalah sesuatu yang positif maka yang keluar dalam ungkapan verbal pun akan positif, begitu juga sebaliknya. Sementara syukur dalam sikap memiliki makna yang sangat luas.

Sudahkah kita bersyukur hari ini?


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *