VUCA Bisnis Kebaikan

Salam Sahabat

“Tidak mudah menjalankan bisnis, apalagi harus dilandaskan pada moralitas. Mendapatkan yang haram saja sulit apalagi yang halal.” Begitu pandangan banyak orang, sehingga untuk mendapatkan keuntungan banyak orang menghalalkan segala cara, yang penting berhasil. Kebocoran usaha, kesepakatan bisnis yang dilandasi kebohongan, penipuan, mengakali transaksi dan lain sebagainya merupakan bentuk pengingkaran nilai-nilai moral dan agama dalam berbisnis. Orang-orang seperti inilah yang dilaknat oleh Alloh swt. sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Muthoffifiin [83] ayat 1-3.

Bisnis harus dijalankan atas prinsip-prinsip kejujuran dan dengan mengedepankan nilai-nilai moral atau nilai-nilai agama. Bisnis yang dijalankan dengan melangkahi nilai-nilai moral dan nilai-nilai agama, itu adalah bisnis yang tidak akan berumur panjang. Jika pun sekarang sukses, itu hanya sementara. Mengapa demikian? Karena Alloh swt. tidak akan mengizinkan bisnis yang merugikan orang lain akan mendapatkan keberkahan dan keberlimpahan. Alloh akan menghancurkannya dengan cara-cara yang tidak biasa, seperti tidak memberikan keberkahan atas hasil yang diperoleh, ketidaktenangan pikiran dan mental, serta suasana batin yang hampa.

Realitas VUCA Bisnis Kebaikan

Tantangan untuk berbisnis kebaikan, baik dalam proses maupun produk bisnis, menjadi bertambah kompleks dalam situasi saat ini. Betapa tidak, revolusi industri telah melahirkan era disruptive dalam berbagai aspek kehidupan termasuk bisnis. Gejolak perubahan (volatility) terjadi begitu cepat, sehingga melahirkan situasi yang tidak menentu (uncertainty), area persaingan menjadi jauh lebih kompleks (complexity). Di sisi lain, ambiguitas (ambiguity) menstimulasi ketidakmudahan dalam mengambil keputusan, pembacaan pasar, rencana-rencana jangka panjang lainnya.

Sebagai seorang mukmin yang baik, tentu tidak akan berhenti atau menyerah dengan situasi seperti ini. Kita memiliki fondasi keimanan (faith) yang tidak hanya semu, sebaliknya kita memiliki fondasi keimanan yang menguatkan. Maka cukuplah nilai-nilai ini yang menjadi alasan untuk tetap semangat menghadapi situasi yang terus bergejolak ini.QS. Al-Baqaroh [2] ayat 286:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

Strategi VUCA Bisnis Kebaikan

Realitas Disruptif terus berkembang, sehingga memaksa setiap insan bisnis terus berpikir dan merespon dengan caranya masing-masing, berdasarkan value dan keyakinan yang dimiliki. Diruptif pun mendorong inovasi yang tiada henti dengan tagline-nya, yaitu disruptive innovation. Saat era internet of things sudah terjadi pada semua lini kehidupan, maka VUCA strategi pun harus diimplementasikan. Terinspirasi dengan realitas VUCA maka dalam menghadapi Volatility (gejolak), Uncertainty (ketidaktentuan), Complexity (kompleksitas), dan Ambiguity (kekaburan), perlu Vision (visi melihat masa depan dalam jangka panjang), Understanding (pemahaman tentang prioritas utama dalam bisnis dan manajemen), Clarity (kejelasan tentang mana yang core bussiness), dan Agility (kemampuan belajar dan berubah dalam situasi yang tidak biasa).

Vision. Kemampuan melihat visi masa depan dalam jangka panjang, menjadi titik tolak penting. Setiap orang baik secara individu maupun institusi dipaksa untuk harus memahami orientasi jangka panjang dari masing-masing bisnisnya. Bukan hanya sekedar paham, namun juga paham apa yang harus segera dipersiapkan, bersinergi dengan siapa, fokus pada yang menghasilkan, dan menciptakan peluang-peluang baru atas peluang-peluang yang sudah ada.

Understanding. Kemampuan untuk memahamani prioritas utama dalam bisnis dan manajemen. Kemampuan memetakan permasalahan utama dan permasalahan yang timbul sebagai reaksi atas permasalahan yang ada sebelumnya. Kemampuan untuk merancang strategi-strategi baru dari waktu ke waktu. Singkat kata, semua orang baik secara individu maupun bisnis harus mengaktifkan semua sel-sel otaknya untuk berpikir kompleks-reflektif gejolak dan ketitdaktentuan yagn ada.

Clarity. Bisnis yang fokus pada core bussiness adalah bisnis yang tangguh, setidaknya dalam brandingnya. Memang menarik, jika kita mampu mengembangkan berbagai lini bisnis yang ada. Hanya tantangannya adalah kemampuan setiap orang dalam organisasi untuk bersikap fleksibel dan adaptif terhadap tuntutan perubahan. Kita tidak boleh berada dalam superiority syndrom, yaitu merasa bahwa kita mampu melakukan banyak hal. Jika pun bisnis harus mengembangkan lini bisnisnya, maka harus dicek ulang core bussinessnya agar tidak campur aduk antara bisnis satu dengan yang lainnya.

Agility. Setiap pemimpin harus mendorong timnya untuk belajar dan beradaptasi dengan perubahan tuntutan bisnis. Di sinilah team akan teruji kemampuan belajar dan berubah dalam situasi yang tidak biasa. Metode yang paling memungkinkan kemudian adalah menciptakan iklim belajar, sharing cepat, dan ketersediaan akses belajar oleh semua insan dalam organisasi.

Semangat Berkemajuan. Salam Dahsyat Luar Biasa

Coach ILHAM

————————————————

SIlakan LIKE, COMMENT, SUBSCRIBE, SHARE, dan FOLLOW agar ada lebih banyak vidio inspirasi yang saya share.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *